Jumat, 23 Agustus 2013

Surat untuk Juanito.

Teruntuk sepupuku, Juanito.
Salam, Bagaimana  kabarmu Juanito? Aku harap kau baik-baik selalu bersama Kakek Gonzalo.
Ku harap pula, kau bisa lebih bersabar menghadapinya. Dia memang sudah begitu sejak dulu. Tepatnya
Sejak si Perawan bagai perak dari Falensia itu melupakannya dan menikah dengan saudagar pilihan ibunya.
Sebenarnya, Kakekku orang yang paling baik. Dia penuh cinta sama semua orang. Bahkan, dia tidak segan-segan memberikan hadiah yang cukup mahal kepada mereka.
Kesedihannyalah yang membuat iya jadi begitu.
Saking mendalamnya, nenekku yang seorang gadis penari balet yang dikawininya kemudian, sama sekali tak sanggup menghapusnya hingga Nenekku memilih untuk meninggalkannya.
Sejak saat itu, kakekku gemar menyendiri dan tiap hari kerjanya merawat bunga2 mawar di kebun belakang.
Dia acap kali berhayal bahwa Laura selalu menemaninya di kebun itu sambil bernyanyi kemudian menciumi mawar-mawar itu.

Oh Juanito, aku khawatir kakekku menjadi gila karena dampak dari semua itu. maka dari itu aku menyuruhmu untuk menemaninya sekedar menghiburnya.
Paling tidak, kau bisa tenangkan ia ketika ia mulai marah lagi.
Ajaklah ia berjalan-jalan di taman, sekedar untuk menghirup udara pagi dan merasakan hangatnya mentari. Oh Juanito, ku harap kau bisa lakukan itu untuk kakekku tercinta. Karena dialah orang satu-satunya yang aku punya setelah ayah dan ibuku memutuskan untuk bercerai lalu meninggalkan kota ini.
Juanito, salam untuk Kakek Gonzalo, bilang sama dia aku akan segera pulang setelah aku wisuda dari Amerika minggu depan.
(Wijaya)
12 November 2011 pukul 10:10 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar