Kamis, 22 Agustus 2013

Kenangan Mihrob Cinta di Pulau Setu Gintung

Semilir angin situ Gintung nan permai itu,
menyeretku pada kenangan masa lalu,
kala kita baru pertamakali bertemu,
di antara tumpukan buku-buku,
di perpustakaan kala itu.
Ada cinta yang belum sempat ku ungkapkan padamu,
karena waktu yang enggan berhenti menunggu.
Kala semilir angin bertiup,
ku mendengar suara-suara itu,
namun ku ragu,
karena ku tak tau,
suara siapakah itu.
Mungkin,
itu suara rinduku.
Karena di dalam kesunyian hatiku,
dia mencoba tuk terus teriakan kata-kata itu.
"segera ungkapkan rindumu!
Segera ungkapkan rindumu!
Sampai kapan kau harus memendam rasa itu?"
aku galau,
hingga ku mendengar detak jarum jam seakan malu tuk melangkah.
Kala semilir angin berhembus,
segalanya jadi terdiam,
suara gesekan dedaunan pun menghilang.
Aku seakan tenggelam di dalam riak danau Situ Gintung yang masih sisakan setitik duka.
Teriakan rinduku pun membahana hingga bangkitkan segala kesadaran jiwa.
Lalu,
ku ungkapkan segala rasa itu padamu.
Ku tahu,
engkau pun tersenyum tersipu malu,
sambil membimbingku ke dalam mihrob cinta.
Di sana,
kita bersujud kepadaNya atas segala anugrah cinta yang Ia turunkan
kepada kita.
"wahai yang Maha Menyinta, ridlailah cinta kami. Terimalah sujud kami di dalam mihrob cintaMu, ampunilah dosa kami. Ya Robbi, hanya padaMu
kami menyembah, dan kepadaMulah kami memohon pertolongan, sucikanlah cinta kami, dan bimbinglah kami untuk menyintaiMu lebih dari ikatan cinta yang terjalin
di antara hati kami. Persatukanlah hati kami di dunia dan di akhirat. Izinkanlah kami tuk kembali menziarahi Mihrob CintaMu, dengan ikatan cinta yang suci
dan abadi serta diridlai."
Mihrob cinta menjadi saksi bisu sujudnya hati kita kepadaNya.
kan ku kenang selalu hingga ku kembali ke dalam pelukan rahmatNya.

Mihrob cinta di tengah pulau Setu Gintung, 24 Januari 2012, waktu ashar.
(Wijaya)
"Terimakasih Dinah, atas kenangan yang indah ini. Semoga kau berbahagia dengan belahan jiwamu kini."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar