I just wana say I love you.
Kini ku tau, aku mencintaimu,
seperti rembulan mencintai bumi,
Seperti bunga mencintai kumbang
seperti sarang mencintai burung,
Seperti ombak mencintai lautan,
Seperti hujan mencintai awan.
I just wana say I love you,
kini angin tengah membius anganku,
terbang jauh menembus cakrawala hatimu,
ku tebarkan senyum pada bunga-bunga yang menghias wajahmu,
Pada air yang selalu membasuh tubuhmu,
Pada kasih sayang yang mensucikan hatimu,
Pada keagungganNya yang menciptakan dirimu..
I just wana say I love you,
Kini aku bahagia mendapatkan cintamu,
begitupun kamu yang bahagia mendapatkan cintaku,
Terpujilah Ia yang menganugrahkan cinta untuk kita berdua.
I just wana say I love you,
Mungkin ku tak mampu merangkaikan bunga untukmu,
tetapi aku akan rangkaikan Berjuta kata tuk ungkapkan rasa cintaku padamu.
I just wana say I love you,
I just wana say I love you,
I just wana say I love you!
Evrything it’s ok for you!
don’t afraid I always beside of you.
(Wijaya)
Puisi ini terinspirasi dari lagunya meli Guslau “I just wana say I love you”*
15 Maret 2011 pukul 21:38
Saat aku mengenalNya, ku sadar. Bahwa Ia amat mencintaiKu dan menghendakiku untuk hidup. Inilah aku yang hidup karena cintaNya
Selasa, 03 September 2013
Minggu, 01 September 2013
Syair untuk sang Senja
Ku panggil sang Senja, lalu ku meminta nasihat darinya.
"Duhai Senja yang temaram, Akankah malam kan tiba tepat pada waktunya? Sedangkan aku melihat sang angin mengisyaratkan sesuatu kepadaku."
Senja datang menghadap, namun hanya duduk dan terdiam.
Senja memanggil angin, lalu senja memerintahkan angin tuk mempertanggung jawabkan isyaratnya itu.
Sang Angin menghaturkan sembah, kemudian berkata: "duhai sang baginda yang mulia, ada seekor burung pipit yang tersesat jalan pulang. Dapatkah baginda menunda terbenamnya mentari barang sejenak?"
Aku terdiam, ku tengok mentari yang melangkah lelah di atas pucuk pepohonan kamboja... Ku panggil ia untuk ku ajak ia bicara sejenak...,
Namun ia terus melangkah seolah tak mendengar.
Sambil terus melangkah, ia pun berkata padaku, "Ampun Tuan baginda..., maafkan hamba yang tak bisa turuti perinta tuan... Jika hamba berhenti melangkah demi burung itu, maka Tuan dan seluruh rakyat tuan akan dibunuh oleh sang waktu beserta tentaranya..."
(Wijaya)
11 Maret 2012 pukul 16:59
"Duhai Senja yang temaram, Akankah malam kan tiba tepat pada waktunya? Sedangkan aku melihat sang angin mengisyaratkan sesuatu kepadaku."
Senja datang menghadap, namun hanya duduk dan terdiam.
Senja memanggil angin, lalu senja memerintahkan angin tuk mempertanggung jawabkan isyaratnya itu.
Sang Angin menghaturkan sembah, kemudian berkata: "duhai sang baginda yang mulia, ada seekor burung pipit yang tersesat jalan pulang. Dapatkah baginda menunda terbenamnya mentari barang sejenak?"
Aku terdiam, ku tengok mentari yang melangkah lelah di atas pucuk pepohonan kamboja... Ku panggil ia untuk ku ajak ia bicara sejenak...,
Namun ia terus melangkah seolah tak mendengar.
Sambil terus melangkah, ia pun berkata padaku, "Ampun Tuan baginda..., maafkan hamba yang tak bisa turuti perinta tuan... Jika hamba berhenti melangkah demi burung itu, maka Tuan dan seluruh rakyat tuan akan dibunuh oleh sang waktu beserta tentaranya..."
(Wijaya)
11 Maret 2012 pukul 16:59
Langganan:
Postingan (Atom)