Minggu, 01 September 2013

Syair untuk sang Senja

Ku panggil sang Senja, lalu ku meminta nasihat darinya.
"Duhai Senja yang temaram, Akankah malam kan tiba tepat pada waktunya? Sedangkan aku melihat sang angin mengisyaratkan sesuatu kepadaku."
Senja datang menghadap, namun hanya duduk dan terdiam.
Senja memanggil angin, lalu senja memerintahkan angin tuk mempertanggung jawabkan isyaratnya itu.
Sang Angin menghaturkan sembah, kemudian berkata: "duhai sang baginda yang mulia, ada seekor burung pipit yang tersesat jalan pulang. Dapatkah baginda menunda terbenamnya mentari barang sejenak?"

Aku terdiam, ku tengok mentari yang melangkah lelah di atas pucuk pepohonan kamboja... Ku panggil ia untuk ku ajak ia bicara sejenak...,

Namun ia terus melangkah seolah tak mendengar.

Sambil terus melangkah, ia pun berkata padaku, "Ampun Tuan baginda..., maafkan hamba yang tak bisa turuti perinta tuan... Jika hamba berhenti melangkah demi burung itu, maka Tuan dan seluruh rakyat tuan akan dibunuh oleh sang waktu beserta tentaranya..."
(Wijaya)
11 Maret 2012 pukul 16:59 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar